Pentas Seni hingga Sajian Kuliner Khas Daerah, Milad ke-20 Rumah Sekolah Cendekia Penuh Kehangatan

MAKASSAR — jendelasulsel.com – Tawa anak-anak, tepuk tangan keluarga, penampilan seni yang memikat, hingga sajian kuliner khas Nusantara mewarnai perayaan milad ke-20 Rumah Sekolah Cendekia. Bukan sekadar perayaan bertambahnya usia, momentum dua dekade ini menjadi ruang untuk merayakan proses tumbuh kembang anak, menghargai dedikasi para pendidik, serta mempererat hubungan antara sekolah dan keluarga.

Mengusung tema “Menyalakan Cahaya, Terus Bertumbuh,” perayaan tersebut menghadirkan suasana penuh kehangatan dan kebersamaan. Peserta didik dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Dasar (SD) mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan, kreativitas, serta keberanian mereka di hadapan orang tua dan keluarga besar sekolah.

Di atas panggung, setiap anak hadir dengan keistimewaannya masing-masing. Ada yang menari, memainkan musik, tampil dalam pertunjukan teater, hingga memperlihatkan keterampilan bermain bola pingpong. Di balik setiap penampilan, tersimpan proses panjang berupa latihan, kesabaran, keberanian mencoba, dan dukungan dari guru maupun orang tua.

Bagi Rumah Sekolah Cendekia, setiap penampilan bukan semata-mata tentang siapa yang paling menonjol atau paling sempurna. Lebih dari itu, panggung menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar percaya diri, menghargai proses, bekerja sama, serta merasakan kebahagiaan ketika mampu menyelesaikan sesuatu dengan usaha sendiri.

Perayaan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan yang bermakna tidak berhenti pada pelajaran di ruang kelas. Pendidikan juga tumbuh melalui pengalaman, interaksi sosial, kegiatan seni, kedekatan dengan alam, dan hubungan penuh kasih antara anak, guru, serta keluarga.

Menemukan Keistimewaan di Balik Setiap Anak

Ketua Yayasan sekaligus Pembina Rumah Sekolah Cendekia, Ratna Juita, menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi dan keistimewaan yang perlu ditemukan, dirawat, dan dikembangkan melalui pendampingan yang tepat.

Menurutnya, kemampuan anak tidak semestinya hanya diukur melalui nilai akademik. Setiap anak mempunyai kecenderungan, minat, serta bakat yang berbeda. Ada yang menonjol dalam pelajaran, ada yang memiliki kemampuan di bidang olahraga, seni, komunikasi, maupun keterampilan lainnya.

Karena itu, orang tua dan guru memiliki tanggung jawab untuk membantu anak mengenali kekuatan dirinya, bukan sekadar membandingkannya dengan anak lain.

“Allah menciptakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan-Nya. Karena itu, setiap anak pasti memiliki kelebihannya masing-masing. Tugas kita sebagai orang dewasa di sekitarnya adalah membantu menemukan dan mengembangkan kelebihan tersebut,” demikian pesan Ratna Juita dalam pemaparannya.

Ia mencontohkan seorang anak yang memperlihatkan kemampuan menonjol dalam olahraga renang sejak duduk di kelas awal sekolah dasar. Potensi seperti itu, menurutnya, perlu dikenali sejak dini dan diberikan kesempatan untuk terus berkembang.

Pesan tersebut mengandung makna sederhana tetapi mendalam: anak yang belum unggul dalam satu bidang bukan berarti tidak memiliki kelebihan. Mereka mungkin hanya membutuhkan waktu, kesempatan, dan pendekatan yang berbeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Cara pandang inilah yang menempatkan anak sebagai individu yang utuh. Bukan hanya prestasi akademik yang diperhatikan, tetapi juga perkembangan karakter, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, dan kepedulian terhadap sesama.

Belajar dari Kehidupan, Tumbuh dalam Kebersamaan

Rumah Sekolah Cendekia juga memberikan perhatian terhadap lingkungan belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak didorong untuk membangun hubungan yang baik dengan teman, menghargai perbedaan, saling membantu, serta belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Interaksi antarpeserta didik dari berbagai tingkat pendidikan menjadi salah satu kesempatan untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan. Melalui pengalaman bersama, anak-anak belajar bahwa setiap orang memiliki peran dan layak dihargai.

Pembelajaran juga diarahkan agar tetap menyesuaikan kebutuhan peserta didik di tengah perubahan kurikulum. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan nilai-nilai pendidikan yang menjadi landasan sekolah.

Selain itu, pengalaman berinteraksi langsung dengan alam dan lingkungan sekitar dipandang penting untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kehidupan. Anak tidak hanya mengenal lingkungan melalui buku atau perangkat digital, tetapi juga melalui pengalaman melihat, merasakan, dan berpartisipasi dalam kegiatan nyata.

Pelaksanaan perayaan di area terbuka turut memberikan suasana belajar yang berbeda. Anak-anak dan keluarga dapat menikmati kegiatan sambil belajar mengenai kebersihan, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga lingkungan bersama.

Dari hal-hal sederhana, seperti menjaga kebersihan tempat kegiatan dan membuang sampah pada tempatnya, anak-anak belajar bahwa kepedulian tidak harus dimulai dari tindakan besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter.

Pentas Seni, Tempat Anak Belajar Berani

Kepala Sekolah Rumah Sekolah Cendekia, Impu Sanjaya, menjelaskan bahwa milad tahunan tidak hanya dimaknai sebagai seremoni, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperlihatkan proses perkembangan peserta didik.

Melalui tema “Menyalakan Cahaya, Terus Bertumbuh,” sekolah ingin memberikan ruang kepada anak-anak untuk menunjukkan kemampuan mereka, baik dalam bidang akademik maupun keterampilan hidup dan kepemimpinan.

Pentas seni menjadi salah satu sarana untuk mewujudkan tujuan tersebut. Ketika berdiri di hadapan penonton, anak belajar mengatasi rasa gugup, mengikuti arahan, bekerja sama, mengambil peran, dan menyelesaikan tanggung jawabnya.

Bagi orang dewasa, penampilan di atas panggung mungkin terlihat sebagai bagian singkat dari sebuah acara. Namun, bagi seorang anak, keberanian untuk melangkah, berdiri di depan banyak orang, dan mencoba memberikan penampilan terbaik merupakan pengalaman yang berharga.

Di sinilah makna pendidikan terlihat dalam bentuk yang nyata. Anak tidak harus selalu tampil sempurna untuk mendapatkan apresiasi. Keberanian mencoba, kesediaan berlatih, dan kemauan untuk terus belajar juga merupakan pencapaian yang patut dirayakan.

Kehadiran orang tua yang menyaksikan secara langsung turut memberikan dukungan emosional bagi anak. Tepuk tangan dan senyuman keluarga menjadi pengingat bahwa usaha mereka dihargai.

Dengan demikian, panggung seni bukan sekadar tempat pertunjukan, melainkan ruang untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan memberikan pengalaman yang dapat dikenang dalam perjalanan masa kecil mereka.

Orang Tua Menyaksikan Perubahan Anak

Kebahagiaan atas perkembangan peserta didik turut dirasakan para orang tua. Suci, orang tua peserta didik PAUD yang akrab disapa Bunda Mysha, mengungkapkan rasa syukurnya melihat perubahan positif pada anak selama menjalani pendidikan di Rumah Sekolah Cendekia.

Ia merasakan perkembangan terutama dalam kemampuan berbicara, keaktifan, dan keberanian bersosialisasi. Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika anaknya mampu tampil di atas panggung dengan percaya diri, tersenyum, dan tidak menunjukkan rasa takut yang berlebihan.

Bagi seorang ibu, menyaksikan anak yang mulai berani tampil di depan banyak orang tentu menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Perubahan tersebut menjadi tanda bahwa anak sedang belajar menghadapi lingkungan, mengenali kemampuannya, dan membangun kepercayaan terhadap diri sendiri.

Menurut Bunda Mysha, keberanian tersebut tidak hadir begitu saja. Ada latihan, persiapan, dan pendampingan para guru yang membantu anak-anak merasa lebih siap sebelum tampil.

Ia juga mengapresiasi dedikasi tenaga pendidik yang mempersiapkan berbagai kebutuhan kegiatan, termasuk penataan panggung dan dekorasi yang dikerjakan melalui kreativitas serta kerja sama internal sekolah.

Pengalaman itu semakin menguatkan rasa syukurnya karena telah memilih Rumah Sekolah Cendekia sebagai salah satu lingkungan bagi anaknya untuk belajar dan bertumbuh.

Baginya, keberhasilan pendidikan tidak selalu harus diukur melalui angka, nilai, atau peringkat. Kemampuan berkomunikasi, keberanian mencoba hal baru, dan kemauan berinteraksi dengan orang lain juga menjadi perkembangan yang berarti.

Guru Hadir untuk Mendampingi Setiap Proses

Komitmen terhadap pendampingan peserta didik juga tercermin dalam perhatian sekolah terhadap kebutuhan anak yang beragam.

Dalam pemaparan pihak sekolah, jumlah peserta didik disebut mencapai sekitar 160 orang, dengan tenaga guru dan staf sekitar 50 orang. Komposisi tersebut menjadi bagian dari gambaran upaya sekolah dalam mendukung proses pembelajaran dan perkembangan anak.

Setiap anak memiliki karakter, kebutuhan, dan tahapan pertumbuhan yang tidak selalu sama. Ada yang mudah mengungkapkan pendapat, tetapi ada pula yang membutuhkan dorongan untuk berani berbicara. Ada yang cepat beradaptasi, sementara yang lain memerlukan waktu untuk merasa nyaman di lingkungan baru.

Dalam kondisi seperti itu, peran guru tidak terbatas pada penyampaian materi pelajaran. Guru juga menjadi pendamping yang membantu anak memahami dirinya, belajar mengelola perasaan, membangun hubungan sosial, dan menemukan keberanian untuk mencoba.

Kesabaran, perhatian, dan konsistensi menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Anak yang merasa diterima dan dihargai diharapkan lebih berani bertanya, menyampaikan pendapat, serta mengembangkan potensinya.

Namun, proses tersebut tidak dapat berjalan sendiri. Sekolah dan keluarga perlu saling mendukung agar pendampingan yang diterima anak tetap selaras.

Guru memberikan bimbingan selama anak berada di sekolah, sedangkan orang tua melanjutkan dukungan melalui komunikasi, perhatian, dan kebiasaan positif di rumah.

Ketika kedua lingkungan tersebut saling menguatkan, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang dengan rasa aman dan percaya diri.

Orang Tua Apresiasi Pendidikan yang Menumbuhkan Karakter

Pengalaman positif selama mendampingi anak juga disampaikan Lukman A. Bahar, orang tua dari Oryza Sativa.

Ia mengungkapkan rasa syukur atas perkembangan anaknya selama bersekolah di Rumah Sekolah Cendekia. Menurutnya, perubahan yang dirasakan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik dan keterampilan, tetapi juga pembentukan karakter, kemandirian, serta rasa percaya diri.

“Selama anak kami bersekolah di Rumah Sekolah Cendekia, kami sangat bersyukur melihat tumbuh kembangnya yang begitu pesat. Tidak hanya dari segi akademis dan keterampilan, tetapi juga karakter, kemandirian, dan rasa percaya dirinya,” ungkap Lukman A. Bahar.

Ia menilai lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, didukung tenaga pendidik yang sabar, ramah, serta penuh kasih sayang, turut membuat anaknya bersemangat menjalani kegiatan belajar.

“Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, tenaga pengajar yang sangat sabar, ramah, dan penuh kasih sayang membuat anak kami selalu semangat berangkat sekolah setiap harinya,” lanjutnya.

Lukman juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh tenaga pendidik atas bimbingan, dedikasi, serta perhatian yang diberikan dalam mendampingi perkembangan anak-anak.

“Terima kasih banyak kepada seluruh tenaga pendidik Rumah Sekolah Cendekia atas bimbingan, dedikasi, dan perhatian yang luar biasa selama ini,” tuturnya.

Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa pengalaman pendidikan memiliki arti yang luas bagi keluarga. Semangat anak ketika berangkat sekolah, keberanian dalam berinteraksi, dan tumbuhnya kemandirian menjadi bagian dari kebahagiaan orang tua yang tidak selalu dapat diwakili oleh angka di atas kertas.

Di balik perkembangan itu, terdapat proses yang berlangsung setiap hari: guru yang membimbing, orang tua yang memberikan dukungan, serta anak-anak yang perlahan belajar mengenali kemampuan dirinya.

Sajian Kuliner Nusantara Menghangatkan Suasana

Di luar panggung seni, suasana milad ke-20 Rumah Sekolah Cendekia semakin semarak melalui sajian kuliner yang dinikmati bersama.

Beragam hidangan disiapkan untuk para tamu, mulai dari makanan berat, makanan ringan, hingga aneka kue. Sajian khas daerah seperti barobbo, kapurung, dan kue bolu turut melengkapi suasana perayaan.

Kehangatan semakin terasa ketika sejumlah orang tua peserta didik ikut membawa makanan jadi untuk dibagikan dan dinikmati bersama. Berbagai hidangan yang tersaji menghadirkan suasana berbagi yang sederhana, tetapi penuh makna.

Di antara rangkaian pertunjukan, keluarga dapat beristirahat sejenak, menikmati makanan, berbincang dengan sesama orang tua, dan bertukar cerita mengenai perkembangan anak-anak mereka.

Momen seperti ini memperlihatkan bahwa sebuah perayaan sekolah bukan hanya tentang susunan acara yang telah dipersiapkan. Ada pula kebahagiaan yang tumbuh dari pertemuan, percakapan ringan, dan kesediaan untuk berbagi dengan orang lain.

Kehadiran kuliner khas Nusantara juga memberi warna tersendiri pada perayaan. Barobbo dan kapurung, misalnya, bukan sekadar hidangan yang dinikmati bersama, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner daerah yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Keterlibatan orang tua dalam membawa makanan memperlihatkan semangat kebersamaan yang tumbuh di lingkungan sekolah. Perayaan tersebut menjadi milik bersama, bukan hanya pihak penyelenggara, melainkan seluruh keluarga yang hadir dan turut memberikan dukungan.

Hubungan yang terbangun dalam suasana santai seperti ini dapat membuka ruang komunikasi yang lebih akrab antara orang tua dan guru. Mereka memiliki kesempatan untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan anak.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya membutuhkan ruang belajar yang baik, tetapi juga hubungan antarmanusia yang hangat dan saling mendukung.

Foto Bersama, Kenangan Dua Dekade

Menjelang akhir kegiatan, pihak sekolah bersama para orang tua mengikuti sesi foto bersama. Momen tersebut menjadi penutup perayaan yang menyatukan berbagai unsur keluarga besar Rumah Sekolah Cendekia.

Guru, orang tua, dan keluarga berkumpul untuk mengabadikan kebersamaan setelah menyaksikan penampilan anak-anak serta menikmati rangkaian acara yang berlangsung.

Foto bersama itu menjadi lebih dari sekadar dokumentasi milad. Ia merekam perjalanan yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pendidik yang mendampingi anak setiap hari, orang tua yang mempercayakan pendidikan putra-putrinya, hingga anak-anak yang menjadi pusat dari seluruh proses pembelajaran.

Setiap orang memiliki peran yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh harapan yang sama: melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, berkarakter, dan peduli terhadap lingkungan.

Kehadiran orang tua dalam kegiatan sekolah juga menjadi bentuk dukungan yang penting bagi anak. Mereka tidak hanya mengetahui apa yang dipelajari anak di ruang kelas, tetapi dapat menyaksikan secara langsung keberanian, kreativitas, dan perkembangan yang ditunjukkan.

Kebersamaan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan perjalanan bersama. Sekolah menyediakan lingkungan dan pendampingan, keluarga memberikan kasih sayang serta dukungan, sementara anak-anak terus belajar menemukan jalan pertumbuhannya sendiri.

Dua Dekade Merawat Harapan, Menyalakan Cahaya Masa Depan

Dua puluh tahun perjalanan Rumah Sekolah Cendekia menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya pendidikan yang menghargai keunikan setiap anak.

Pentas seni yang menghadirkan kreativitas peserta didik, pendampingan guru, dukungan orang tua, pengalaman belajar di ruang terbuka, hingga sajian kuliner khas daerah memperlihatkan bahwa proses pendidikan berlangsung melalui banyak pengalaman.

Ada pelajaran tentang keberanian ketika anak melangkah ke atas panggung. Ada pelajaran tentang kedisiplinan ketika mereka menjalani latihan. Ada pelajaran tentang kepedulian ketika mereka menjaga kebersihan lingkungan. Ada pula pelajaran tentang kebersamaan ketika guru, orang tua, dan keluarga saling berbagi dalam suasana perayaan.

Seluruh pengalaman itu memiliki tempat dalam proses pembentukan karakter anak.

Tema “Menyalakan Cahaya, Terus Bertumbuh” pun menjadi pesan yang relevan untuk perjalanan pendidikan ke depan. Setiap anak memiliki cahaya berupa potensi, minat, dan keistimewaan yang mungkin belum terlihat sepenuhnya. Cahaya tersebut membutuhkan ruang untuk berkembang, pendampingan yang tepat, serta lingkungan yang tidak mudah menghakimi.

Dua dekade perjalanan sekolah juga menjadi pengingat bahwa membangun generasi masa depan tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan kesabaran untuk memahami kebutuhan anak, konsistensi dalam mendampingi prosesnya, dan kerja sama antara sekolah serta keluarga.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang diperoleh seorang anak atau seberapa meriah penampilannya di atas panggung. Keberhasilan juga tercermin ketika anak mulai berani menyampaikan pendapat, mampu menghargai orang lain, belajar bertanggung jawab, dan memiliki semangat untuk terus mencoba.

Pentas seni dan sajian kuliner dalam milad ke-20 Rumah Sekolah Cendekia menjadi bagian dari perayaan yang menyatukan proses belajar dan kehangatan keluarga. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap anak yang bertumbuh, ada banyak tangan yang mendampingi, banyak hati yang memberikan dukungan, dan banyak harapan yang terus dirawat.

Menyalakan cahaya berarti memberi kesempatan kepada setiap anak untuk menemukan keistimewaannya. Terus bertumbuh berarti menjaga komitmen untuk mendampingi mereka, hari demi hari, agar kelak mampu melangkah menghadapi kehidupan dengan karakter, kemandirian, dan kepedulian.

 

Penulis: Kanda Ali

More From Author

Percakapan Live TikTok Fenny Frans Jadi Perbincangan, APPI Sulsel Dorong Klarifikasi Terbuka

HARI SANTRI NASIONAL 2026 Ketua DPW APPI Sulawesi Selatan Bersama Seluruh Jajaran Sampaikan Salam Hormat dan Doa untuk Santri Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *