KOLAKA — Jendelasulsel.com – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan di Kota Kolaka, ada sosok sederhana yang telah puluhan tahun menjadikan musik sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Namanya Roy Brewok ,Ilham Dan Achonk. Bagi sebagian penumpang kapal, sosoknya mungkin sudah tidak asing lagi. Dengan gitar di tangan dan suara yang mengalun sederhana, Roy hadir menghibur para penumpang yang menunggu maupun selama berada di atas kapal.
Roy merupakan salah satu KPJ (Komunitas Pengamen Jalanan) pelabuhan yang masih aktif di wilayah Kota Kolaka. Ia mulai mengamen sejak sekitar tahun 1990 dan hingga kini tetap menjalani aktivitas tersebut.
Bagi Roy, bermain musik bukan sekadar mencari penghasilan. Ada kecintaan terhadap musik yang membuatnya terus bertahan. Gitar menjadi teman perjalanan hidupnya sebagai seorang anak rantau asal Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang mencoba mencari kehidupan yang lebih layak di tanah rantau.
Puluhan tahun berada di pelabuhan membuat Roy mengenal banyak wajah dan cerita. Dari penumpang kapal, pekerja pelabuhan, hingga sesama pengamen, semuanya menjadi bagian dari perjalanan hidup yang ia jalani.
Di sela aktivitasnya, Roy memainkan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu yang akrab di telinga para penumpang. Sederhana, tanpa panggung megah dan tata suara yang mewah. Namun justru dari kesederhanaan itulah tercipta hiburan yang terasa dekat dan apa adanya.
Malam itu, suasana di atas kapal terasa semakin hangat. Hembusan angin malam yang menyapa dari laut justru menambah syahdu suasana, ketika petikan gitar mulai terdengar dan lagu dinyanyikan.
Para penumpang yang berada di sekitar pun ikut terhibur. Beberapa bahkan ikut bernyanyi, larut dalam suasana yang tercipta secara spontan. Tidak ada jarak antara pengamen dan penumpang. Musik seakan menjadi bahasa sederhana yang mempertemukan mereka dalam satu suasana kebersamaan.
Di tengah suasana tersebut, Roy Brewok memainkan gitar. Ilham mengiringi dengan gendang, sementara Achonk berjalan berkeliling menyapa para penumpang, menanti uluran tangan sebagai bentuk apresiasi dari lagu yang mereka bawakan.
Ketiganya menjalankan peran masing-masing. Roy dengan petikan gitarnya Sambil Bernyanyi, Ilham dengan irama gendangnya, dan Achonk yang berkeliling menemui para penumpang.
Tidak ada panggung khusus. Tidak ada sorotan lampu. Hanya ruang kapal, hembusan angin malam, suara gitar, tabuhan gendang, dan lantunan lagu yang kemudian menyatu dengan suara para penumpang yang ikut bernyanyi.
“Yang penting bisa bermain musik, menghibur orang, sekaligus mencari rezeki,” demikian semangat yang tercermin dari perjalanan Roy selama bertahun-tahun.
Pertemuan awak media dengan Roy dan sejumlah pemain KPJ pelabuhan di Kota Kolaka pun berlangsung dalam suasana sederhana. Saling menyapa, bercanda, dan memperkenalkan diri menjadi awal perjumpaan yang memperlihatkan bahwa di balik aktivitas mengamen, ada manusia-manusia dengan cerita, perjuangan, dan harapan masing-masing.
Roy adalah gambaran kecil tentang kerasnya kehidupan anak rantau. Berangkat dari Bantaeng, membawa kecintaan terhadap musik, lalu bertahan selama puluhan tahun di tanah orang dengan gitar sebagai kawan sekaligus alat untuk menyambung hidup.
Di pelabuhan, tempat orang datang dan pergi silih berganti, Roy justru memilih untuk tetap bertahan. Musiknya mungkin hanya terdengar beberapa menit bagi seorang penumpang, tetapi bagi Roy, setiap petikan gitar adalah bagian dari perjalanan panjang kehidupannya.
Malam itu, perjalanan kapal bukan hanya tentang menuju sebuah tujuan. Ada cerita lain yang ikut berlayar—tentang persahabatan, perjuangan, musik, dan orang-orang sederhana yang mampu menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya angin malam.
Dari satu kapal ke kapal lainnya, dari satu penumpang ke penumpang berikutnya, Roy bersama Ilham dan Achonk terus memainkan musiknya. Bukan untuk menjadi terkenal, melainkan untuk tetap bertahan, berbagi hiburan, dan mencari rezeki dengan cara yang mereka cintai.
Sebab terkadang, kebahagiaan tidak membutuhkan panggung yang megah. Cukup sebuah gitar, gendang, sebuah lagu, dan orang-orang yang bersedia bernyanyi bersama.
Di atas kapal itulah, musik sederhana mereka menjadi penghangat perjalanan malam.
Penulis : Kanda Ali





