Makassar, Jendela sulsel — Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggerus minat generasi muda terhadap seni tradisi, sosok Redy Rangga atau yang akrab disapa Mas Rangga hadir sebagai salah satu pemuda pelestari adat dan budaya Jawa di Sulawesi Selatan. Dengan penuh semangat dan ketekunan, pria berdarah blasteran Jawa-Palopo ini terus menjaga warisan budaya leluhurnya agar tetap hidup di tanah rantau.
Mas Rangga dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Ia aktif tampil dari panggung ke panggung membawakan seni budaya khas Jawa, terutama dalam prosesi adat pernikahan Jawa yang sakral dan penuh makna.
Pemuda kelahiran Tuban, Jawa Timur, 2 Desember 1986 itu merupakan anak dari seorang prajurit TNI AD Kostrad. Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan disiplin militer, namun memiliki kecintaan besar terhadap dunia seni tradisional.
“Bakat dan hobi seni ini sudah saya jalani sejak kecil. Setelah lulus SMA saya belajar langsung kepada para sesepuh dan maestro seni di Yogyakarta, lalu saya amalkan di Sulawesi Selatan, tanah kelahiran ibu saya,” ungkap Mas Rangga saat diwawancarai.
Perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Setelah lulus SMA, ia harus menerima kenyataan pahit kehilangan sang ayah yang meninggal dunia karena sakit usai pensiun dari militer. Bersama ibunya, ia menjalani hidup dengan penuh perjuangan dan keterbatasan.
Tidak berhenti di situ, duka kembali datang ketika ibunya meninggal dunia pada tahun 2024 karena sakit. Kini, Mas Rangga menjalani hidup seorang diri sambil terus merintis usaha dan memperjuangkan kelestarian budaya Jawa di Sulawesi Selatan.
Dengan tekad kuat, sejak tahun 2008 ia mulai membuka usaha wedding adat Jawa dan sanggar seni di Maros. Perjuangannya dimulai benar-benar dari nol tanpa bantuan modal dari orang tua.
“Saya pernah dibayar hanya Rp50 ribu sekali menari. Tapi saya tetap sabar dan terus belajar karena tujuan saya bukan hanya mencari uang, tapi supaya budaya Jawa di Sulsel tidak punah,” katanya.
Ketekunan dan kualitas penampilannya membuat nama Mas Rangga perlahan dikenal luas. Ia kini dipercaya mengisi berbagai acara adat Jawa, mulai dari pesta rakyat hingga penyambutan tamu dan pejabat penting dari Jakarta yang berkunjung ke Sulawesi Selatan.
Beberapa tokoh nasional bahkan pernah disambut langsung melalui pertunjukan seni yang dibawakannya, termasuk Menteri Khofifah Indar Parawansa saat berkunjung ke Sulsel.
Selain aktif sebagai seniman tari dan pemandu adat Jawa, Mas Rangga juga dikenal sebagai seorang pesilat yang aktif di Perguruan Pencak Silat SH Terate Pusat Madiun Cabang Maros. Di sela aktivitas seni dan usahanya, ia juga tercatat sebagai jurnalis di salah satu media di Makassar.
Menariknya, banyak penari muda dari kalangan perempuan Bugis yang kini ikut belajar tari Jawa di sanggar miliknya. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Mas Rangga karena seni budaya Jawa mulai diterima lintas suku di Sulawesi Selatan.
Sejak aktif berkesenian pada tahun 2001, perjuangannya mulai menunjukkan hasil sekitar tahun 2020. Namun baginya, perjalanan panjang penuh lika-liku itu justru menjadi pelajaran hidup yang berharga.
“Tujuan saya sederhana, supaya adat dan budaya Jawa tetap hidup di Sulawesi Selatan dan dikenal generasi muda,” tuturnya.
Dedikasi Mas Rangga menjadi bukti bahwa seni tradisi masih memiliki tempat di hati anak muda. Semangat dan perjuangannya diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi sekarang agar tidak melupakan budaya leluhur di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Sumber : Redy Rangga
Penulis : Kanda Ali
Editor : Tim Redaksi





