GOWA – Akses jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Sinjai di Desa Bolaromang, Kecamatan Tombolo Pao, kini menjadi sorotan tajam. Jalur ini merupakan urat nadi vital bagi masyarakat karena menjadi rute pemintas menuju Sinjai yang jauh lebih singkat dibandingkan harus melintasi jalur provinsi.
Namun, kondisi jalan yang rusak parah belakangan ini mulai memakan korban. Tercatat, beberapa kecelakaan terjadi di awal bulan ini akibat lubang dan kerusakan jalan yang kian memprihatinkan. Kondisi ini mendesak pemerintah untuk segera melakukan penanganan demi keamanan dan kelancaran mobilisasi warga di wilayah pegunungan tersebut.
Menanggapi keluhan warga, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Gowa, Rusdy Ardiyanto, angkat bicara mengenai langkah strategis yang tengah diupayakan pemerintah daerah.
Efisiensi Anggaran Pusat Jadi Penghambat
Rusdy mengungkapkan bahwa perbaikan menyeluruh untuk ruas Bolaromang sebenarnya sudah masuk dalam daftar usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk tahun anggaran 2025. Namun, rencana tersebut harus terganjal kebijakan di tingkat pusat.
“Sebenarnya sudah kami usulkan lewat DAK 2025 agar pengerjaannya tuntas sampai ujung. Namun, karena ada kebijakan efisiensi anggaran dari pusat, alokasi DAK-nya dinolkan atau dibatalkan,” ungkap Rusdy.
Sebagai langkah darurat, Pemerintah Kabupaten Gowa kini mengalihkan sumber pembiayaan ke Dana Alokasi Umum (DAU). Mengingat anggaran yang terbatas harus dibagi ke 18 kecamatan di Kabupaten Gowa, penanganan dilakukan dengan sistem skala prioritas.
“Untuk tahap awal tahun ini, pengerjaan difokuskan pada sepanjang 1 kilometer terlebih dahulu,” tambahnya.
Medan Berat, Biaya Capai Rp1,6 Miliar Per KM
Tingginya biaya pembangunan di Desa Bolaromang dipengaruhi oleh kondisi geografis Tombolo Pao yang berada di dataran tinggi. Diperlukan spesifikasi teknis yang kuat agar infrastruktur tidak mudah rusak oleh cuaca sejuk dan medan yang menantang.
Estimasi pengerjaan dengan aspal atau beton (lapisan Klas A) diprediksi menelan biaya sekitar Rp1,5 miliar hingga Rp1,6 miliar per kilometer. Besaran biaya ini sangat bergantung pada kondisi dasar jalan di lapangan guna menjamin daya tahan jangka panjang.
Harapkan Dukungan Musrenbang dan Proker DPRD
Demi menuntaskan sisa jalan yang belum diperbaiki, Rusdy menekankan pentingnya sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan kecamatan dalam pengusulan anggaran berikutnya.
“Kami menyarankan agar dalam usulan tahun anggaran mendatang, jalan ini diposisikan sebagai Prioritas Pertama dalam Musrenbang tingkat kecamatan,” jelasnya.
Selain itu, dukungan melalui Program Kerja (Proker) anggota DPRD dari daerah pemilihan (Dapil) setempat sangat diharapkan. Kehadiran dukungan politik di legislatif akan memberikan poin penilaian lebih tinggi dalam sistem penganggaran pusat maupun daerah, sehingga realisasi perbaikan bisa lebih cepat.
Pemerintah Kabupaten Gowa menyatakan komitmennya untuk terus memantau infrastruktur di wilayah perbatasan Gowa-Sinjai ini. Sambil menunggu proses pengerjaan bertahap, warga Desa Bolaromang diimbau untuk tetap waspada saat melintas.
Penulis: Allank
Editor : Tim Redaksi





