LMMC 90s, Rumah Kreatif Musisi Makassar yang Terus Menjaga Nada Persaudaraan

MAKASSAR — Di tengah geliat kehidupan kota yang dinamis, sekelompok musisi dari berbagai latar belakang rutin berkumpul setiap pekan. Mereka datang bukan sekadar memainkan lagu, tetapi juga merawat persaudaraan. Di sanalah LMMC 90s (Lembaga Makassar Musician Community) menghadirkan ruang kebersamaan melalui kegiatan Jamming Session yang digelar setiap Jumat malam di berbagai titik di Kota Makassar dan sekitarnya.

Suasana kegiatan ini selalu terasa hangat dan bersahabat. Para musisi datang membawa alat musik, ide, dan semangat yang sama: berkarya dan berbagi. Tanpa sekat profesi ataupun usia, mereka tampil secara spontan, saling bertukar pengalaman, bahkan berkolaborasi memainkan lagu-lagu bernuansa era 90-an yang menjadi ciri khas lembaga ini.

Bagi para anggota, kegiatan ini bukan sekadar hiburan. Jamming Session menjadi ruang untuk menjaga silaturahmi, mengasah kemampuan bermusik, sekaligus membangun jaringan positif di antara para pelaku seni di Sulawesi Selatan.

Ketua LMMC 90s, Yang Di Motori Musmuliadi, S.Kom, yang akrab disapa Noval Tadjang, menuturkan bahwa lembaga ini lahir dari semangat kebersamaan para musisi lokal yang ingin memiliki wadah untuk terus berkarya.

“LMMC 90s hadir sebagai ruang bagi para musisi untuk tetap aktif, saling mendukung, dan menjaga solidaritas. Musik menjadi bahasa yang menyatukan kita semua,” ujarnya.

LMMC 90s sendiri mulai dibentuk pada tahun 2019 sebagai lembaga musik di Makassar. Setahun kemudian, pada tahun 2020, organisasi ini resmi menjadi lembaga dengan SKT dari Kemendagri, menegaskan eksistensinya sebagai wadah yang memiliki orientasi seni sekaligus sosial.

Saat ini LMMC 90s menghimpun sekitar 300 anggota yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan, dengan sekitar 180 anggota aktif. Keunikan lembaga ini terletak pada latar belakang anggotanya yang sangat beragam, mulai dari ASN, TNI, Polri, wartawan, pekerja seni, buruh harian, pengusaha kafe dan restoran, hingga pelajar dan mahasiswa.

Dengan mengusung motto “Bersatu, Berkarya, Berdaya,” LMMC 90s berupaya menjadi wadah yang tidak hanya mempertemukan para musisi, tetapi juga membuka ruang kreativitas yang lebih luas bagi para pelaku seni musik di daerah Khususnya Di Kota Makassar Dan Umumnya Di Sulawesi Selatan.

Selain kegiatan mingguan, LMMC 90s juga menjalankan berbagai program tahunan yang menggabungkan unsur seni dan kepedulian sosial. Beberapa di antaranya seperti LMMC Caradde, LMMC Kreatif, serta berbagai kegiatan event musik dan aksi sosial yang melibatkan anggota lembaga.

Lembaga ini juga aktif membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah dan lembaga sosial. Salah satu kerja sama yang pernah dilakukan adalah bersama Balai Pemasyarakatan (BAPAS) Makassar, dalam program pembinaan bagi warga binaan melalui kegiatan musik sebagai sarana pengembangan bakat dan kreativitas.

Menariknya, ruang berkarya bagi lembaga ini juga hadir melalui konsep “LMMC Corner” yang berada di Roehmansa Cafe. Tempat ini menjadi titik pertemuan para musisi untuk berlatih, tampil, hingga mengekspresikan karya mereka dalam suasana yang santai dan akrab.

Owner Roehmansa Cafe 1 & 2, Dhydhink Ar Rasyid, yang juga merupakan salah satu pengurus LMMC 90s, memberikan dukungan penuh terhadap aktivitas lembaga tersebut. Kehadiran LMMC Corner menjadi simbol nyata bahwa ruang kreatif bagi musisi lokal dapat tumbuh dari kebersamaan dan kepedulian terhadap dunia seni.

Melalui berbagai kegiatan yang terus berjalan, LMMC 90s tidak hanya menjadi lembaga musik, tetapi juga rumah bagi para musisi yang ingin terus berkarya. Di tengah alunan gitar, dentuman drum, dan suara vokal yang berpadu, tersimpan pesan sederhana: bahwa musik mampu menyatukan perbedaan dan menumbuhkan persaudaraan.

Dengan semangat itu, LMMC 90s optimistis akan terus memberi warna bagi perkembangan musik lokal di Sulawesi Selatan, sekaligus melahirkan lebih banyak karya dan kegiatan positif bagi masyarakat.

 

Penulis : Kanda Ali

Tim Redaksi

Jendela Timur

More From Author

Roehmansa Dhydhink Ar Rasyid: Dari Dunia Film ke Cafe Romansa, Merawat Persaudaraan Musisi 90-an di Makassar

Dari Bass Panggung ke Penggerak Musisi: Kisah Bung Maman Bersama LMMC 90s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *