Kegiatan Sosial Yang Dikemas Untuk Melambungkan Popularitas Pribadi*

Banten, 17 Maret 2026 Ketika sebagai pekerja kau tidak mendapatkan THR (Tunjang Hari Raya) dan bingkisan atau parsel Lebaran, itu bukan berarti kau dianggap kelas pekerja yang sudah dianggap mampu dan berkecukupan sehingga tidak lagi membutuhkan tunjangan untuk sekedar untuk menegakkan kondisi ekonomi yang sedang spoyongan, tetapi yang pasti, mereka tidak memberikan THR dan bingkisan lebaran lantaran tidak mempunyai apresiasi apapun terhadap keberadaan Anda, baik sebagai pekerja atau bahkan rekanan bisnis atau patner sekerja.

 

Pemberian THR dan bingkisan lebaran itu, patut dipahami sebagai apresiasi, penghormatan, penghargaan atas segenap bentuk kontribusi, perhatian serta loyalitas kita dalam kebersamaan yang telah terjalin dan berlangsung sekian lama. Artinya, untuk segera bentuk yang telah kita berikan itu wajar dan pantas mendapat apresiasi yang sewajarnya untuk mengukuhkan ikatan jalinan kerjasama dalam bentuk apapun, sehingga untuk kerjasama berikutnya pantas dan layak untuk terus dilanjutkan.

 

Jika tidak, maka saatnya menentukan sikap dari beragam bentuk kebersamaan itu perlu ditinjau ulang. Sebab boleh jadi keberadaan diri kita hanya sekedar diposisikan seperti sapi perahan belaka. Karena bagi mereka, sangat mungkin cuma untuk melengkapi kebutuhan gizi mereka semata. Sementara untuk kebutuhan gizi diri kita — untuk terus dapat mensupport kerjasama yang lebih baik — hanya sekedar demacam sampiran belaka. Sehingga untuk menjaga keseimbangan — kalau pun tidak harus dalam keseteraan — patut untuk segera dipertimbangkan.

 

Jadi pemberian THR dan bingkisan hari raya itu harus dipahami sebagai bentuk nyata dari sikap kepedulian, perhatian, empati bahkan solidaritas dalam kebersamaan yang wajib untuk dijaga bersama. Tidak bertepuk sebelah tangan. Sebagai contoh dari kegiatan sosial yang dilakukan sebuah Yayasan yang cukup ternama, justru kerja berat yang telah dilakukan segenap personil pendukung acara sosial itu tampak jelas hanya ingin membesarkan nama yayasan tersebut, dengan cara membagikan bingkisan lebaran yang cukup mewah, namun mengabaikan para personil pendukung acara itu, justru tidak mendapatkan apa-apa, kecuali letih dan lelah setelah bekerja maksimal untuk menghimpun dana hingga menata acara pembagian santunan hingga bingkisan yang mengatasnamakan ritual keagamaan dan kemanusiaan. Sementara untuk para pekerja dan personil pendukung dari acara yang sukses itu, dianggap sebagai kerja bakti yang tidak perlu mendapat penghargaan sedikit pun. Bentuk kerja yang manipulatif seperti ini, jelas hanya untuk mendongkrak nama besar tokoh penggeraknya yang tidak cukup bijak untuk bersikap adil, karena hanya mementingkan untuk melambungkan namanya sendiri yang dikemas dalam bentuk yayasan atau sejenis organisasi sosial yang selalu mengatas namakan nilai-nilai kepedulian sosial yang tidak adil dan tidak beradab ini, karena justru hanya ingin melambungkan popularitas pribadi.

 

Fenomena kegiatan sosial yang mengatas namakan kemudian pada akhir belakangan ini cukup dominan tersajikan dalam kemasan untuk sekedar mendongkrak popularitas pribadi. Tidak lagi murni mengusung nilai-nilai sosial kemanusiaan untuk membangun keseimbangan dari ketimpangan yang terus meruncing dan menahan, bukan hanya sebatas ekonomi, tapi juga syarat muatan politik yang menggumpal dalam ambisi pribadi.

 

 

Sumber : Jacob Ereste

Editor : Tim Redaksi

More From Author

Diduga Langgar Aturan SOTR SPMP DESAK KAPOLRESTABES MAKASSAR DAN KAPOLRES BARRU UNTUK KLARIFIKASI DAN MINTA MAAF KE MASYARAKAT KOTA MAKASSAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *