MAKASSAR — Di tengah kesibukan dunia profesional yang menuntut kedisiplinan tinggi, masih ada ruang bagi jiwa untuk tetap bernyanyi. Itulah yang tergambar dalam perjalanan Heri Syam, SE, MM, seorang aparatur sipil negara sekaligus pengajar di lingkungan perbankan BUMN di Makassar, yang tetap setia merawat kecintaannya pada musik.
Di bulan suci Ramadan, ketika nilai kebersamaan dan silaturahmi terasa semakin hangat, kisah Heri Syam menjadi refleksi bahwa hobi, persahabatan, dan pengabdian bisa berjalan berdampingan. Bagi Heri, musik bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa jiwa yang menjaga semangat tetap muda.
Saat ini Heri Syam juga aktif sebagai Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan di Lembaga Makassar Musician Community 90s (LMMC 90s), sebuah lembaga yang menjadi rumah bagi para musisi era 1990-an di Makassar. Di lembaga ini, Heri tidak hanya berperan sebagai penggerak gagasan, tetapi juga bagian dari energi yang menghidupkan kembali semangat bermusik para sahabat lamanya.
Melalui LMMC 90s, Heri menemukan kembali ruang silaturahmi yang sempat terpisah oleh waktu dan kesibukan. Pertemuan-pertemuan sederhana, jamming session, hingga diskusi kreatif menjadi cara mereka merawat kenangan sekaligus melahirkan karya baru.
Bagi Heri, musik dan persahabatan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dari ruang kebersamaan itulah lahir semangat baru untuk kembali berkarya, sesuatu yang dulu pernah menjadi mimpi di masa-masa kuliah.
Semangat itu kemudian diwujudkan bersama Tripple S Band, sebuah formasi yang beranggotakan Heri Syam, Maman, Aria, serta Betet/Ical. Di bawah naungan semangat kebersamaan LMMC 90s, mereka berhasil merealisasikan mimpi lama yang sempat tertunda.
Tahun 2024 menjadi momentum penting bagi perjalanan musikal mereka. Tidak hanya kembali bermain musik, Tripple S Band juga mulai merilis karya dan memanfaatkan berbagai platform digital agar lagu-lagu mereka dapat dinikmati lebih luas.
Beberapa karya yang lahir dari perjalanan tersebut antara lain lagu “Untukmu”, “Soul Never Old”, “Satukan Langkah”, dan “Sahabat.” Setiap lagu menjadi refleksi perjalanan hidup, tentang persahabatan, harapan, serta keyakinan bahwa semangat berkarya tidak pernah mengenal usia.
Bagi Heri Syam, filosofi “Soul Never Old” bukan sekadar judul lagu, melainkan cara memandang hidup. Selama seseorang masih memiliki semangat untuk berkarya dan berbagi energi positif kepada orang lain, maka usia hanyalah angka.
Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, Heri juga melihat musik sebagai jalan mempererat silaturahmi. Nada, lirik, dan kebersamaan dalam bermusik menjadi cara sederhana untuk menjaga hubungan antar sahabat tetap hangat.
“Bagi saya, musik dan silaturahmi adalah satu kesatuan. Ketika kita berkumpul, bernyanyi, dan berbagi cerita, di situlah energi hidup terasa kembali,” ungkapnya dengan senyum hangat.
Melalui perjalanan hidupnya, Heri Syam menunjukkan bahwa profesionalisme, persahabatan, dan seni bisa berjalan seiring. Di tengah kesibukan sebagai ASN dan pembimbing karyawan di dunia perbankan, ia tetap menjaga ruang bagi kreativitas dan kebersamaan.
Dan seperti salam yang selalu ia gaungkan kepada sahabat-sahabatnya di LMMC 90s:
“Soul Never Old.”
Sebuah pesan sederhana, bahwa jiwa yang terus berkarya akan selalu menemukan cara untuk tetap muda.
Penulis : Kanda Ali
Editor : Tim Redaksi





