MAKASSAR — Di balik dinamika aktivitas musik di Lembaga Makassar Musician Community 90’s (LMMC 90’s), terdapat sosok yang dikenal hangat, bersahabat, dan penuh semangat membangun kebersamaan. Dialah Bung Alfian Amir Tamma, yang akrab disapa Pian. Ia dipercaya mengemban amanah sebagai Humas sekaligus Koordinator Keorganisasian dan Pengembangan UEA di tubuh LMMC 90’s.
Bagi Bung Pian, musik bukan sekadar hobi atau hiburan semata, melainkan ruang untuk menyatukan banyak orang dalam satu harmoni persaudaraan. Di tengah kesibukannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ia tetap aktif menyalurkan kecintaannya terhadap musik sekaligus berperan dalam memperkuat organisasi yang menaungi para musisi lintas generasi tersebut.
Bung Pian mulai bergabung sebagai member LMMC 90’s pada tahun 2022. Sejak awal bergabung, ia membawa semangat untuk ikut menyatukan seluruh elemen dalam lembaga agar semakin solid. Baginya, LMMC 90’s bukan sekadar wadah berkumpul, tetapi juga ruang pembinaan yang dapat melahirkan sumber daya manusia bertalenta, yang mampu bersaing di luar komunitas dengan berbagai keterampilan dan kreativitas yang dimiliki.
Perjalanan musikal Bung Pian sendiri telah dimulai sejak masa kecil. Ia pertama kali mengenal dan memainkan musik pada tahun 1989, ketika masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Ketertarikan itu terus berkembang hingga semakin serius menekuni dunia musik pada tahun 1992, yang kemudian membawanya tampil di berbagai panggung musik di Kota Makassar.
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan bermusiknya adalah ketika mengikuti Festival Musik se-Sulawesi pada tahun 1994, yang digelar di pelataran Fajar Group, kawasan yang kini dikenal sebagai Universitas Fajar (UNIFA). Pada masa itu, festival musik menjadi ruang bagi para musisi muda untuk menunjukkan bakat dan kreativitas mereka.
Tak hanya itu, Bung Pian juga pernah tampil dalam ajang “Log Zhelebord” sekitar tahun 1996 yang berlangsung di Arini, sebuah gedung hiburan yang dahulu dikenal sebagai bioskop legendaris di Kota Makassar. Bersama rekan-rekannya dalam Liberti Band, ia merasakan atmosfer kompetisi dan persahabatan yang begitu kuat di kalangan musisi pada masa itu.
Meski band yang mereka bentuk belum berhasil meraih gelar juara, pengalaman tersebut tetap menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bagi Bung Pian, kesempatan untuk tampil dan menjadi bagian dari perjalanan musik di masa itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri.
Kecintaan terhadap musik tidak berhenti di panggung. Pada tahun 2013, Bung Pian mulai membangun sebuah studio musik pribadi sebagai ruang kreativitas. Studio tersebut kemudian berkembang hingga pada tahun 2020 resmi dibuka untuk umum dengan nama Talsap Musik Studio. Tempat ini kini menjadi ruang berkumpul bagi para musisi untuk berlatih, berdiskusi, serta berbagi pengalaman dalam mengembangkan karya.
Di tengah suasana Ramadhan yang penuh keberkahan, sosok Bung Pian menjadi gambaran bahwa musik dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi, menumbuhkan solidaritas, dan membangun generasi musisi yang lebih kuat.
Bagi LMMC 90’s, kehadiran figur seperti Bung Alfian Amir Tamma bukan hanya sebagai penggerak organisasi, tetapi juga sebagai penjaga semangat kebersamaan. Melalui dedikasi dan kecintaannya terhadap musik, Bung Pian terus berupaya menjadikan LMMC 90’s sebagai rumah besar bagi para musisi—tempat di mana persahabatan, kreativitas, dan nilai persaudaraan tumbuh dalam satu harmoni yang tak lekang oleh waktu.
Penulis : Kanda Ali
Editor : Tim Redaksi





