Ia yang Seharusnya Dijaga, Justru Masih Mencari Nafkah hingga Malam — Kisah Pilu Saintang Dg Kebe

Ia yang Seharusnya Dijaga, Justru Masih Mencari Nafkah hingga Malam — Kisah Pilu Saintang Dg Kebe

MAKASSAR — Malam mulai larut. tak banyak Yang Mengenali Siapa Nama Sosok wanita Renta Yang Berjalan Sendiri Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, langkah seorang wanita renta tampak perlahan menyusuri jalan.

Usianya tak lagi muda, langkahnya pun sudah sangat lambat. Namun, semangatnya untuk bertahan hidup seakan tak mengenal kata lelah.
Namanya Saintang Dg Kebe.

Saintang Dg Kebe Berjualan Sejak pagi hingga  Larut malam, Saintang Yang  berjualan kerupuk dan aneka kue. Dengan tubuh yang sudah renta, ia tetap membawa dagangannya, berharap ada orang yang berkenan membeli.

Hingga suatu malam, langkah Saintang terhenti ketika bertemu dengan dua wanita muda. Entah keduanya hendak membeli dagangannya atau sekadar ingin berbagi sedikit rezeki. Namun, dari tatapan dan sikap mereka, terlihat jelas ada rasa iba yang begitu dalam.

Ketika awak media menghampiri, kedua wanita muda tersebut hanya terdiam. Mereka bahkan enggan disebutkan namanya dan tidak ingin menjadikan kebaikan yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang harus diketahui banyak orang.

Tak lama kemudian, keduanya pergi meninggalkan Saintang yang kembali Menjajakan Dagangan,  Namun ada satu hal yang begitu menyentuh hati Saintang bukan hanya menjual dagangan Tetapi Ia juga seolah mengajarkan arti keikhlasan.

Ketika seseorang membeli dagangannya, Saintang memberikan satu bungkus kue sebagai hadiah. Dengan senyum sederhana, ia bahkan mendoakan orang yang membeli dagangannya.

“Panjang umur, sehat selalu…”
Doa itu keluar dari hati seorang wanita yang justru sedang berjuang mencari nafkah untuk dirinya sendiri.

Di usia yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, menikmati hari-hari bersama keluarga, dan menjaga kesehatan, Saintang masih harus menghabiskan waktunya di jalan demi mencari penghasilan.

Pendengarannya masih baik. Namun, langkahnya sudah sangat lambat, seiring usia yang terus bertambah.

Kita mungkin sering mengeluh tentang kehidupan. Tetapi malam itu, Saintang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar: bahwa keterbatasan tidak selalu membuat seseorang kehilangan keikhlasan untuk berbagi.

Ia yang seharusnya menerima uluran tangan, justru masih mampu memberikan sesuatu kepada orang lain.

Pertanyaannya sekarang:
Adakah Masih Ada  yang peduli dengan Saintang Dg Kebe?
Adakah tangan yang mau membantu tanpa harus menunggu ia meminta?
Adakah hati yang tergerak untuk memastikan seorang wanita renta seperti Saintang tidak lagi harus berjalan dari pagi hingga malam hanya demi sesuap nasi?

Semoga kisah kecil ini mengetuk hati kita semua,  Bukan untuk mengasihani, tetapi untuk mengingatkan bahwa di sekitar kita mungkin masih ada orang-orang tua yang berjuang dalam diam, menahan lelah tanpa mengeluh dan mencari nafkah tanpa meminta belas kasihan.

Jika ada kepedulian, jangan tunggu mereka meminta. Jika ada rezeki, jangan ragu berbagi. Sebab terkadang, satu uluran tangan kecil bagi kita, bisa menjadi harapan besar bagi mereka.
Saintang Dg Kebe masih menunggu uluran kepedulian kita.

 

Penulis: Kanda Ali
Editor: Red

More From Author

Kunjungan Silaturahmi Anggota Dewan di Somba Opu Bertepatan dengan Malam Mappaccing

Panitia Mubes IKA SMPN 21 Makassar Matangkan AD/ART dan Persiapan Musyawarah Besar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *