Ramadan di LMMC Corner: Saat Nada, Doa, dan Persaudaraan Musisi Makassar Bertemu

MAKASSAR — Ramadan selalu menghadirkan ruang kehangatan bagi siapa saja yang ingin merajut kembali silaturahmi. Bagi para musisi yang tergabung dalam Lembaga Makassar Musician Community 90s (LMMC 90s), momen itu hadir dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar di LMMC Corner, Roehmansa Cafe dan Srikandi Cafe, Kompleks Pasar Segar Pengayoman, Makassar, Minggu (15/3/2025).

Di tempat sederhana yang menjadi rumah kreatif para musisi itu, suasana Ramadan terasa begitu akrab. Satu per satu anggota LMMC 90s, sahabat, dan pemerhati musik datang membawa cerita, senyum, serta semangat kebersamaan yang selama ini menjadi napas perjalanan komunitas tersebut.

Sejak sore hari, kegiatan dimulai dengan nuansa religius melalui pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang menghadirkan keteduhan. Tausiah singkat kemudian mengingatkan para hadirin tentang makna Ramadan sebagai waktu untuk memperkuat ukhuwah, merawat kepedulian, serta menumbuhkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah suasana itu, LMMC 90s juga menghadirkan sentuhan musik daerah sebagai bagian dari penghormatan terhadap akar budaya. Kehadiran musik tradisional menjadi simbol bahwa ruang kreativitas para musisi tidak dibatasi oleh zaman—musik modern dan musik tradisional dapat berjalan berdampingan sebagai warisan kearifan lokal budaya Bugis–Makassar.

Menjelang waktu berbuka, suasana berubah menjadi lebih santai dan penuh tawa. Para musisi saling berbagi kisah perjalanan bermusik, mengenang masa-masa awal berkarya, hingga berdiskusi tentang masa depan musik lokal di Makassar.

Saat azan Magrib berkumandang, kebersamaan itu mencapai puncaknya. Para hadirin berbuka puasa bersama, menikmati hidangan sederhana yang terasa istimewa karena disantap dalam suasana persaudaraan.

Usai berbuka dan doa bersama, panggung kecil di LMMC Corner mulai hidup. Beberapa anggota LMMC 90s tampil mengisi sesi live music dengan gaya santai namun penuh rasa. Alunan nada yang mengalir malam itu seolah menjadi bahasa persahabatan yang menyatukan para musisi lintas generasi.

Salah satu momen yang mencuri perhatian datang dari penampilan solo gitar Alex Allxtri, musisi yang dikenal sebagai bagian dari label musik Nagaswara. Petikan gitarnya menghadirkan nuansa hangat dan intim yang membuat para hadirin larut menikmati suasana malam Ramadan.

Bagi LMMC 90s, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan. Lebih dari itu, buka puasa bersama menjadi ruang untuk merawat persaudaraan, memperkuat jejaring kreatif, serta menjaga semangat kebersamaan di antara para musisi Makassar.

Ke depan, LMMC 90s juga menyiapkan sejumlah langkah penting bagi perkembangan para anggotanya. Salah satunya adalah rencana mendaftarkan lembaga ke Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) sebagai bentuk perlindungan terhadap karya musik dan pengelolaan hak cipta, sehingga para musisi dapat lebih terlindungi dari persoalan royalti.

Selain itu, LMMC 90s juga berencana menggelar kegiatan halal bihalal yang akan dikemas dengan nuansa budaya lokal, menghadirkan pertunjukan musik tradisional Pasinrilik—alat musik khas Sulawesi Selatan yang sarat nilai sejarah dan filosofi budaya Bugis–Makassar.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, LMMC 90s berharap dapat terus menjadi rumah kreatif bagi para musisi lokal—tempat bertemu, berbagi, dan berkarya dalam semangat persaudaraan.

Di tengah perkembangan industri musik yang terus berubah, kebersamaan yang terbangun di LMMC 90s menjadi pengingat sederhana bahwa musik bukan hanya soal nada dan panggung, tetapi juga tentang hati yang saling terhubung dalam harmoni persahabatan, terlebih di bulan Ramadan yang penuh berkah.

 

Penulis : Kanda Ali

Editor : Tim Redaksi

More From Author

Bunda Yanti, Suara Persahabatan dari LMMC 90’s yang Menjaga Harmoni Musik dan Kebersamaan

“NEXUS Ragnarian 2023: Di Naungan BEM KEMA FSD UNM, Fragmen Mahasiswa Melebur Menjadi Kesadaran Kolektif.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *