MAKASSAR — Jendela Sulsel
Di balik geliat para musisi era 90-an di Makassar, ada sosok yang dikenal sederhana namun konsisten menjaga semangat kebersamaan. Dialah Bung Maman, seorang musisi yang kini dipercaya sebagai Bendahara Umum di LMMC 90s (Lembaga Makassar Musician Community).

Bagi Bung Maman, musik bukan sekadar hobi. Musik adalah perjalanan hidup yang sudah dimulai sejak masa remaja. Ia mulai bermusik saat masih duduk di bangku SMA pada tahun 1994 sebagai seorang bass player. Sejak saat itu, panggung demi panggung menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk karakter dan kecintaannya terhadap dunia musik.

Memasuki masa kuliah pada tahun 1998, Bung Maman semakin aktif berkarya dengan bergabung bersama Sanggar Seni STIEM Band. Bersama band kampus tersebut, ia berhasil meraih beberapa prestasi dalam ajang kompetisi band tingkat Kota Makassar.
Perjalanan bermusiknya terus berlanjut. Pada tahun 1999, Bung Maman bergabung dengan LOEJOE Band, sebuah grup musik yang cukup dikenal di kalangan musisi lokal. Bersama band ini, berbagai prestasi berhasil diraih, mulai dari tingkat kota hingga level nasional.
Salah satu pencapaian yang paling berkesan adalah ketika LOEJOE Band meraih Juara 2 pada ajang Djarum Super Rock Festival ke-9. Dalam ajang bergengsi tersebut, Bung Maman juga berhasil meraih predikat The Best Bass tingkat nasional melalui lagu berjudul Menggapai Cita.
Tidak berhenti di situ, pada tahun 2004 LOEJOE Band kembali mengukir prestasi dengan meraih Juara 3 Nasional dalam Djarum Super Fest Rock Indonesia ke-10 lewat single Kisah 1001 Malam.
Namun perjalanan hidup tidak selalu berada di atas panggung. Sejak tahun 2005, Bung Maman mulai mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Meski disibukkan dengan tanggung jawab sebagai abdi negara, kecintaannya pada musik tidak pernah benar-benar padam.
Pada tahun 2013, ia memutuskan keluar dari LOEJOE Band untuk lebih fokus pada pekerjaan. Meski demikian, dunia musik tetap menjadi bagian dari kehidupannya. Hingga kini ia masih sesekali tampil sebagai additional bass untuk LOEJOE serta terlibat dalam beberapa proyek musik bersama band seperti Tripple S dan Steril Band.
Kedekatannya dengan para musisi era 90-an membuat Bung Maman ikut terlibat sejak awal terbentuknya LMMC 90s sekitar tahun 2020. Ia merasa lembaga ini menjadi ruang yang tepat untuk menjaga silaturahmi sekaligus merawat semangat berkarya para musisi lama.
“Alasan saya bergabung di LMMC 90s karena saya memang musisi yang mulai bermusik sejak era 90-an. Selain itu, di sini banyak teman-teman lama yang dulu sering satu panggung. Yang paling penting, kami punya kesamaan visi dan misi untuk tetap menjaga eksistensi musisi lokal,” ungkapnya.
Kini sebagai Bendahara Umum, Bung Maman tidak hanya hadir sebagai musisi, tetapi juga sebagai penggerak organisasi. Ia berharap LMMC 90s dapat terus berkembang dan menjadi wadah besar bagi para musisi.
Ke depan, ia memiliki harapan besar agar LMMC 90s dapat menjadi lembaga utama bagi para musisi, tidak hanya di Kota Makassar tetapi juga di Sulawesi secara umum.
“Harapan saya, LMMC 90s bisa menjadi rumah besar bagi musisi, tempat berkumpul, berkarya, dan saling mendukung. Semoga ke depan lembaga ini semakin kuat dan memberi warna bagi perkembangan musik di Makassar dan Sulawesi,” tuturnya.
Kisah Bung Maman menjadi pengingat bahwa musik bukan hanya soal panggung dan popularitas. Bagi sebagian orang, musik adalah persahabatan, perjalanan, dan semangat yang tetap hidup meski waktu terus berjalan.
Di LMMC 90s, semangat itulah yang terus dijaga. Dan Bung Maman adalah salah satu penjaga cerita itu.
Penulis : Kanda Ali
Editor : Tim Redaksi





