Bone – Kelangkaan gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram mulai meresahkan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tabung gas yang akrab disebut “si melon” itu kini sulit ditemukan, baik di tingkat pangkalan resmi maupun pengecer. Kondisi ini tidak hanya memicu keresahan, tetapi juga menyebabkan lonjakan harga yang jauh di atas harga normal.
Anju, warga Kecamatan Dua Boccoe, mengaku telah mencari gas elpiji 3 kg sejak beberapa hari terakhir, namun selalu pulang dengan tangan kosong. Kalaupun ada stok, harganya sudah melambung tinggi dan memberatkan masyarakat kecil.
“Dari kemarin saya cari tidak ada. Sekalinya dapat, harganya sudah Rp30 ribu per tabung, padahal biasanya cuma Rp25 ribu,” ujar Anju, Rabu (21/1/2026).
Meski menyadari harga tersebut tidak sesuai ketentuan, Anju mengaku terpaksa tetap membeli karena kebutuhan dapur yang mendesak. Ia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama, sebab sangat memberatkan warga berpenghasilan rendah.
“Kalau ada yang mau jual, mau tidak mau saya beli, meski harganya lebih mahal. Tidak mungkin juga tidak masak,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Wawa, warga Kecamatan Amali. Ia menyebutkan bahwa kelangkaan gas elpiji 3 kg sudah terjadi hampir merata di wilayahnya. Berbagai pangkalan dan pengecer yang didatangi selalu mengaku kehabisan stok.
“Biasanya gampang didapat, sekarang sudah keliling ke beberapa tempat tapi kosong semua,” kata Wawa.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah ibu rumah tangga terpaksa menghentikan aktivitas memasak di rumah dan beralih membeli makanan siap saji. Hal ini justru menambah beban pengeluaran keluarga di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
“Kalau tidak bisa masak, mau tidak mau harus beli makanan di luar. Biayanya jadi lebih besar,” keluhnya.
Wawa juga mengungkapkan bahwa di wilayah Amali, harga gas elpiji 3 kg di tingkat pengecer bahkan ada yang menembus Rp35 ribu per tabung. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding harga sebelumnya yang berkisar antara Rp27 ribu hingga Rp28 ribu.
Kelangkaan gas elpiji bersubsidi ini dinilai telah mengganggu aktivitas rumah tangga masyarakat secara luas di Kabupaten Bone. Warga menduga adanya masalah pada distribusi, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya penimbunan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Masyarakat pun berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera turun tangan untuk mengatasi persoalan tersebut. Langkah seperti inspeksi mendadak (sidak) ke pangkalan dan pengecer, pengawasan distribusi, serta penindakan tegas terhadap pelanggaran dinilai sangat dibutuhkan.
“Kami berharap pemerintah segera bertindak untuk menstabilkan pasokan dan harga gas LPG 3 kilogram di Bone. Jangan sampai kondisi ini terus berlarut-larut dan makin menyengsarakan masyarakat,” pungkas Wawa.
Tim Redaksi





